Polres Lombok Utara Luncurkan Gerakan Membaca Dua Lembar Sehari untuk Perkuat Literasi
NTBHUB.ID – Polres Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, meluncurkan Program Membaca 2 Lembar Sehari sebagai upaya mendorong budaya literasi di lingkungan kepolisian dan keluarga Bhayangkari.
Program ini lahir dari keprihatinan Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, Ny. Heny Agus Purwanta, yang juga dikenal sebagai akademisi dan penulis. Melalui gerakan tersebut, seluruh jajaran Polres hingga Polsek diwajibkan meluangkan waktu sekitar 10–15 menit setiap hari untuk membaca minimal dua halaman buku.
“Sebagai akademisi, saya tidak bisa tinggal diam. Membaca adalah asupan wajib bagi otak dan jiwa. Dengan dua lembar sehari, kita membangun fondasi peradaban. Lombok Utara tidak boleh terus berada di zona 3T,” ujar Ny. Heny, Selasa (15/7).
Program ini juga diberlakukan bagi Bhayangkari sehingga menjadi gerakan literasi yang berjalan secara terstruktur di internal institusi. Selain sebagai gerakan moral, kebiasaan membaca tersebut juga dimasukkan ke dalam pembinaan sumber daya manusia (SDM) Polres sebagai salah satu indikator penilaian kerja dan promosi jabatan.
Kapolres Lombok Utara, AKBP Agus Purwanta, S.I.K., mengatakan gerakan ini sejalan dengan semangat Polri Presisi dan Asta Cita Presiden yang menekankan penguatan SDM serta sains berbasis literasi.
“Penegakan hukum masa depan tak bisa hanya mengandalkan otot, tapi juga otak. Crime scientific identification butuh kemampuan literasi dan pemahaman data yang terus diperbarui. Maka dari itu, budaya membaca jadi kebutuhan mendesak,” ujarnya.
Untuk mendukung program tersebut, Polres Lombok Utara menyiapkan sejumlah pojok baca di lingkungan kantor. Fasilitas itu dilengkapi buku fisik, e-book, hingga regulasi terbaru. Selain itu, rencana pengembangan perpustakaan digital juga tengah disusun agar akses literasi tidak hanya terbatas untuk internal, tetapi juga dapat dimanfaatkan masyarakat umum.
Gerakan ini mendapat apresiasi dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Lombok Utara. Sekretaris Dispusarsip, H. Muhammad, menyebut inisiatif tersebut dapat menjadi pemantik kolaborasi literasi di berbagai sektor.
“Kami siap bersinergi. Literasi harus turun ke desa, ke sekolah, ke komunitas. Kalau bisa membaca, itu bagus. Kalau bisa menulis, itu luar biasa. Dengan dua aktivitas ini, kita bisa mengubah masa depan,” kata H. Muhammad.
Bagi Ny. Heny, gerakan membaca bukan sekadar kewajiban institusi, melainkan juga bentuk komitmen pribadi dan keluarga. Ia menilai tradisi membaca perlu dimulai dari rumah agar dapat diwariskan kepada anak-anak.
“Membaca itu ibadah. Harus dimulai dari rumah. Kalau keluarga terbiasa membaca, anak-anak juga akan mewarisi tradisi belajar. Dan bangsa ini butuh keluarga yang melek literasi untuk menyongsong Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
