Silent Book Club: Ditemani Tanpa Kehilangan Ruang untuk Diri Sendiri

Jakarta memang tak pernah benar-benar tidur. Di tengah hiruk-pikuk kota, pertanyaan sederhana bisa muncul: apakah seseorang bisa merasa ditemani tanpa harus banyak berbicara dengan orang lain?

Pengalaman menaiki transportasi umum menuju Tugu Tani memberi jawaban tak terduga. Di dalam bus, percakapan ringan antara seorang nenek dan penumpang di sebelahnya menghadirkan kehangatan yang membuat suasana terasa lebih akrab, meski hanya sebagai pendengar. Momen sederhana itu menunjukkan bahwa kebersamaan tidak selalu harus hadir dalam bentuk interaksi yang intens.

Gagasan serupa juga terasa dalam kegiatan Silent Book Club yang digelar di Taman Menteng. Tanpa aba-aba atau formalitas berlebih, para peserta datang membawa buku masing-masing, lalu membaca dalam suasana tenang. Sebagian datang lebih awal, sebagian menyusul kemudian, dan tidak ada keharusan untuk berdiskusi.

Bagi Hestia, penggagas komunitas ini, konsep tersebut lahir dari kebutuhan pribadi untuk tetap bisa membaca sambil ditemani. Ia mengaku sempat terbiasa membaca bersama pasangan, lalu mencari ruang baru setelah kebiasaan itu berubah. Dari situ, ia menemukan konsep Silent Book Club yang sempat dibacanya dari media Amerika Serikat.

“Waktu itu aku punya pacar. Kami punya agenda untuk saling menemani. Terserah dia mau ngapain, tapi aku akan membaca. Singkat cerita, putuslah kami. Di situ aku berpikir, ‘aduh aku nggak punya teman lagi yang bisa nemenin aku baca.’ Beneran, aku cuma butuh ditemenin baca, bukan untuk diskusinya,” ujar Hestia.

Kecintaannya pada membaca juga dipengaruhi keluarga. Ia tumbuh dalam keluarga yang akrab dengan buku dan membaca menjadi kebiasaan sehari-hari. Hestia mengenang masa kecilnya di Surabaya, ketika setelah Maghrib keluarga mendorong anak-anak untuk membaca bila tidak ada tugas sekolah.

“Kami itu punya momen-momen di mana kami membaca setelah Maghrib. Aku besar di Surabaya. Jadi, pukul setengah enam sore itu langitnya sudah gelap, kalau bisa nggak boleh keluar rumah. Nah, kalau misalkan kami lagi nggak ada PR atau ulangan, orang tua selalu mengingatkan kami untuk membaca,” katanya.

Menurut Hestia, kebiasaan itu tidak hanya datang dari perintah, tetapi juga dari teladan. Di rumah, membaca koran, tabloid, dan majalah sudah menjadi bagian dari keseharian keluarga. Dari sanalah tumbuh dorongan untuk menghadirkan ruang membaca yang nyaman bagi orang lain.

Komunitas Silent Book Club kemudian menjadi tempat bagi orang-orang untuk berkumpul tanpa tekanan sosial. Mereka datang bukan untuk berbicara, melainkan untuk berbagi ruang dan waktu dalam diam yang nyaman. Di tengah kota yang sibuk, kehadiran semacam ini menjadi pengingat bahwa ditemani tidak selalu berarti harus ramai.

Konsep tersebut memperlihatkan bahwa membaca bisa menjadi pengalaman bersama, tanpa kehilangan ruang pribadi. Dalam diam, ada rasa kebersamaan yang tetap hangat.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya