65 Persen Lembaga Keuangan Gunakan AI, Ini Dampaknya bagi Masyarakat
NTBHUB.ID – Sebanyak 65 persen lembaga keuangan global kini telah memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mengoptimalkan operasional mereka. Penerapan teknologi ini disebut membuat layanan keuangan menjadi lebih cepat, efisien, dan responsif.
Salah satu penerapan yang mulai banyak digunakan adalah sistem AI multi-agen. Teknologi ini memungkinkan pengolahan data pasar secara real-time sehingga keputusan transaksi dapat diambil dengan lebih akurat.
Chief Operating Officer Slickorps, Rizky Pratama, mengatakan pendekatan multi-agen membuat sistem mampu membaca pasar secara lebih menyeluruh.
“Arsitektur multi-agen memungkinkan sistem membaca pasar secara lebih menyeluruh dan merespons dengan ritme yang lebih cepat serta terukur,” ujarnya.
Dalam sistem tersebut, beberapa agen AI bekerja secara bersamaan dengan tugas berbeda, mulai dari membaca tren pasar, menganalisis risiko, memantau volatilitas, hingga menentukan waktu transaksi. Hasil analisis kemudian digabungkan untuk menghasilkan keputusan yang lebih tepat.
Bagi masyarakat, perkembangan ini berdampak pada layanan keuangan yang semakin responsif. Pergerakan harga yang cepat dapat direspons dalam hitungan detik, sementara risiko bisa dikelola dengan lebih sistematis.
Rizky menambahkan, perubahan ini juga didorong oleh kondisi pasar yang semakin kompleks. Arus informasi yang sangat cepat, fluktuasi harga, dan perubahan sentimen yang terjadi hampir bersamaan membuat metode lama semakin sulit diandalkan.
“Di lingkungan seperti ini, sistem harus mampu memproses banyak variabel sekaligus tanpa mengorbankan kecepatan dan akurasi,” katanya.
Ke depan, AI diperkirakan tidak hanya berperan sebagai alat bantu analisis, tetapi juga dapat menjadi bagian dari sistem yang mengelola proses trading secara otomatis, mulai dari membaca data hingga mengeksekusi keputusan.
Bagi publik, kemajuan ini membuka akses yang lebih luas terhadap teknologi yang sebelumnya banyak digunakan institusi besar. Meski begitu, pemahaman terhadap cara kerja AI tetap penting agar teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara bijak.
